Blogger Backgrounds
..............................................................................................................................
Tampilkan postingan dengan label Petikan Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petikan Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 September 2011

karena jauh , kerja keras (tidaksamadengan) banyak uang


Sempat terjadi dalam periode kehidupan saya saat awal-awal bersama teman-teman memulai
Petakumpet sekitar 10 tahun lalu, waktu 24 jam
sehari rasanya tak cukup. Hari-hari itu begitu
melelahkannya, rasanya tak kuat saya
menyelesaikan begitu banyak tanggung jawab
menyangkut komunitas, pekerjaan maupun kehidupan
personal saya yang berantakan.

Saya pun mengadu pada Allah,"Ya Allah, jika sehari bisa lebih dari 24 jam rasanya saya akan punya kesempatan lebih banyak untuk menyelesaikan semua tanggung jawab saya..."

Tapi rasanya Allah tak mendengar doa saya. Atau saya nya
yang tak punya kemampuan mendengarkan-Nya.
Pekerjaan sepertinya datang tak habis-habis,
ada duitnya emang, tapi duit nya pun mengalir lancar keluar
tak pernah terpegang barang sebentar.

Hidup saya begitu capeknya, badan pegel-pegel tiap malam, Sabtu Minggu pun dihajar pekerjaan.


Sampai suatu hari saya menemukan ciri-ciri
yang dikemukakan Ustadz Yusuf Mansur dalam kehidupan saya:

-        Sibuk tiada henti
-        Kurang tiada cukup
-        Rugi tiada untung


Begitulah, saya sibuk tiada henti.

Pekerjaan satu belum selesai datang lagi
pekerjaan berikutnya. Presentasi ke satu klien
sedang berjalan, hp sudah berbunyi karena klien
berikutnya sudah tidak sabar nunggu. Jadual
berantakan, banyak acara penting datangnya
barengan, seolah-olah solusi yang tersedia
adalah menjadi amuba yang bisa membelah diri
jadi dua atau sepuluh. Saya ditarik ke kanan,
ditarik ke kiri rasanya tak punya hak untuk
menentukan jadual sendiri. Seringkali dalam kondisi
pikiran penuh dan penat, badan luluh lantak
tapi harus pasang senyum manis di depan klien
yang tak ramah, sampai sebuah lagu dangdut pun
menyindir: itu senyum membawa luka.
Saya tak punya lagi waktu baca buku, nulis
catatan harian apalagi nonton film. Saya sibuk
sesibuk-sibuknya, terlihat sukses di luaran
tapi sungguh menderita di dalam. Tidur pun jadi begitu
mahal buat saya padahal jiwa raga
saya sudah ringsek seringsek-ringsiknya.

Dan anehnya lagi, rejeki saya tidak terjamin karena kerja keras itu. Betul bahwa puluhan bahkan ratusan juta rupiah bersliweran saat itu tapi rasanya cuma numpang lewat aja di rekening. Berapapun uang yang kita terima, selalu kurang untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga saat kantor butuh komputer baru untuk mengimbangi permintaan, terpaksa hutang atau kredit. Bahkan saat sakit dan harus periksa ke dokter dan butuh obat ratusan ribu rupiah, uangnya tak tersedia. Klien yang harusnya bayar sekian juta saat itu - sehingga bisa dikasbon dulu untuk beli obat - tak ada kabarnya, ditelepon tidak aktif, didatangi kantornya sepi. Jadual masuknya uang seringkali tidak tepat waktu sesuai kebutuhan. Saat perlu banget, kas malah kosong. Hari-hari saya diisi kepanikan karena takut mengecewakan orang lain, mengecewakan klien, saya selalu merasa kekurangan tak pernah cukup.

Lalu puncaknya, kerugian demi kerugian melengkapi penderitaan saya. Tadi saya cerita di awal, beberapa komputer didatangkan dengan kredit untuk memenuhi permintaan pekerjaan. Tapi justru pekerjaannya itu malah ada aja yang keliru, lalu dikomplain, jika bukan kita yang salah malah kliennya yang mencari-cari kesalahan agar bisa bayar murah. Bikin divisi bisnis baru untuk mengembangkan sayap, bangkrut juga. Hanguslah ratusan juta. Sehingga karena cash flow tak lancar, hutang pun makin menumpuk untuk memenuhi tagihan-tagihan. Seringkali di akhir hari menjelang tidur, saya termenung: ini gimana ceritanya bikin perusahaan biar bisa mandiri dan menolong banyak orang malah jadi menyusahkan diri sendiri begini. Pengennya untung malah buntung....

Setelah saya bercermin pada apa yang saya lakukan setiap hari, saya coba mengambil jarak dari semua masalah-masalah berat yang hadir, ketemulah saya sebabnya mengapa saya jadi begini. Ketemulah saya asal-muasal mengapa hidup saya minus, rugi melulu, panik terus-menerus, rasanya kurang dan selalu kelelahan mengejar cita-cita.

Ketemulah saya dengan Al Qur’an Surat At Talaq ayat 2 dan 3:

Wa mayyatakillahaa yaj’all lahu makhrajaa / wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib / wa may yatawaqqal ‘alallahi fahuwa hasbuh / innallaha ballighu amri qad ja’alallahu kulli syai’in qadra

Barangsiapa bertakwa kepada Allah tentu diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari pintu yang tidak diduga-duga. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Tuhan akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan segala urusan-Nya dan Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.

Lalu apa yang diperlukan untuk mengendalikan kesibukan, mengundang keuntungan dan mendapatkan waktu yang cukup untuk menikmatinya?

Jarak saya dengan Allah begitu jauuuuhnya karena saya tidak berada di jalur taqwa. Saat adzan memanggil, saya masih mendesain di depan komputer, saya masih presentasi di depan klien, saya masih negosiasi, saya masih dalam perjalanan ke PH, saya masih syuting. Adzan yang merupakan panggilan-Nya untuk menyelamatkan hidup saya, saya anggap hanya sebagai backsoundbelaka, sebagai ringtone, saya luput menangkap makna.


Jawaban yang saya dapatkan adalah: bereskan dulu jadual shalat kita. Dari mulai shalat wajib 5 waktu yang jarang lengkap, jauhnya jarak sholat kita dari adzan memanggil, jarangnya jamaah di mesjid. Itulah masalah terbesar yang menghancurkan jadual hidup saya.

Sholatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih hebat lagi, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah, bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.

Sholat akan memberikan kita tambahan waktu, ketenangan dan ketentraman.

Makin tertib dan makin tinggi frekuensi sholat kita, makin banyaklah Allah akan sediakan tambahan waktu luang pada kita. Makin tertib kita pada jadual-Nya, Allah akan atur jadual kita sebaik-baiknya. Insya Allah jadual kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani.

Alhamdulillah hari ini saya masih bisa menyelesaikan baca 3-5 buku setiap minggu. Nonton film di bioskop pun bisa sekali seminggu. Setiap sore masih sempat ngopi atau ngeteh dengan tenang, kerjaan di kantor juga lancar dan sangat sangat sangat jarang komplain-nya. Saya bertanggung jawab atas pekerjaan yang lebih banyak saat ini dibanding dulu tapi saya lebih bisa menikmati prosesnya, tak terburu-buru, tak panik, tidak kelelahan di ujung hari. Hidup saya lebih tenang, lebih damai.

Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak buru-buru tapi tanggung jawab terselesaikan dengan baik.Jika suatu hari saya menemukan jadual saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadual sholat saya. Pasti di situlah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadual saya akan teratur lagi sebaik-baiknya.


Sebuah kisah nyata dari M. Arief Budiman,
Managing Director Petak Umpet Advertising

sangat inspiratif , sampe buat kepala gue kumat migrain yang kanan. tapi hati jadi tenang . pukul 03.35 adzan ashar berkumandang .. admin sholat dulu ya ! :)

inspired : windy borutha siregar
love didhy .

Senin, 02 Mei 2011

Awas, Gerombolan Penjahat Seks di Kereta

Mereka mengelilingi korban dan mulai melakukan aksinya.

Di kutip dari artikel Metro TV , edisi senin 26 April 2011

VIVAnews - Kasus pelecehan seks masih terjadi di dalam Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi. Kali ini pelakunya tidak lagi sendiri tapi berkelompok. Selasa 26 April 2011 pagi, cerita kelam perlakuan bejat sekelompok pria itu terjadi.
Seperti yang diceritakan rekan korban, Dina Nirmala kepada VIVAnews.com.  Rekannya pagi tadi datang ke kantor dengan kondisi tertunduk menangis dan badannya gemetar. Melihat hal ini, banyak temannya yang terheran. "Sambil menangis dan dengan susah payah korban menuturkan pengalaman pahit yang baru saja menimpanya," katanya.

Saat itu, korban naik KRL Ekonomi jurusan Tanah Abang, sekitar pukul 08.00 WIB, dari Stasiun Universitas Pancasila. Kondisi kereta sangat padat. Aksi saling dorong saat penumpang masuk pada setiap stasiun terjadi. Hal ini sudah biasa dirasakan penumpang kereta.

Saat berada di dalam kereta, korban tidak mencurigai apapun saat melihat sekitar 10 orang pria bergerombol. Menurut korban, usia pelaku ditengarai antara 30 tahun ke atas. "Tampang mereka baik-baik semua, itu kenapa saya tidak curiga apa-apa," kata korban yang mengenakan jilbab, seperti yang diceritakan Dina.

Desakan penumpang dari Stasiun Lenteng Agung, memaksanya masuk lebih jauh ke dalam gerbong. Nahas, dia dikelilingi gerombolan pria itu. Hal yang tak dia duga mulai terjadi ketika salah satu pria yang berada di belakangnya mulai menurunkan tangan. "Pria itu membuka celana panjangnya, dan maaf mengeluarkan alat vitalnya dan mengesek di bagian belakang tubuh korban," kata Dina.

Tragisnya lagi, sejumlah pria lain itu seperti menutupi aksi yang ada. Ketika korban berteriak minta tolong, tidak ada satupun orang yang bisa membantu karena kondisi kereta sangat padat. Korban bahkan memohon agar tindakan itu dihentikan. "Pak tolong, saya mohon jangan dorong, kereta sudah padat dan saya terjepit." ujarnya.

Gerombolan pria itu malah tertawa. Mereka seperti kegirangan dan mereka terus melakukan aksi bejatnya. "Pria itu bahkan sedikit mendesah dan mengeluarkan kata-kotor kotor di kuping korban," katanya.

Setelah bersusah payah berteriak dan merangsek menuju pintu, akhirnya korban keluar dari desakan gerombolan laki-laki itu di Stasiun Pasar Minggu. Padahal kantornya berada di Tanah Abang. Dia lalu menuju  kantornya menggunakan kendaraan umum.
Dina mengatakan, sambil bercerita korban tak hentinya mengeluarkan air mata. Dia syok dan trauma. Kasus ini terpaksa diceritakan Dina agar pengalaman pahit yang menimpa temanya dapat membuat kaum wanita makin waspada saat berada di dalam kereta. Agar kondisi yang sama tidak terjadi dan tidak terulang lagi.

"Banyak kasus seperti ini tapi korban tidak berani mengadu. Lalu kemana jika harus mengadu? KCJ (PT Kereta Api Commuter Jabodetabek)? Akankah ada tindakan nyata," ujar Dina.

Menurut Dina, biasanya pihak PT KCJ dengan mudah bicara untuk menyalahkan korban. "Mereka mengatakan harusnya korban bisa membela diri. Harusnya korban bisa begini dan begitu, atau yang lebih ekstrim lagi, harusnya jangan naik kereta ekonomi kalau mau nyaman," katanya.

Dina mengatakan, pagi ini dirinya berkabung untuk sekian kalinya terhadap pelayanan kereta yang buruk. "Sudah berulang kali dikatakan buruk, tetapi seperti bangga akan keburukannya," katanya.

"Kejadian pagi ini hendaknya menjadi pelajaran berharga buat semua orang. Sampai sekarang teman saya masih merasakan tertawaan orang itu dan canda joroknya. Lelaki tidak bermoral, lahir dari batu mungkin," kesal Dina.
Kepala Humas Daop I PT Kereta Api, Mateta Rizalulhaq mengatakan,  akan mengusut  kejadian ini. Dia sudah menyampaikan kepada unit terkait. Namun dia meminta agar para penumpang tidak memaksakan diri bila kereta sudah dalam kondisi yang sangat penuh.

Selain itu, PT KA terus berupaya untuk memberikan layanan yang layak bagi penumpang wanita dengan menyediakan gerbong kereta wanita pada kelas eksekutif atau ekspres. "Ini usaha kami untuk menghindari kejahatan terhadap penumpang wanita," ujarnya.

Selain itu, penegakan hukum dianggap menjadi penting. Karena setiap korban diminta untuk melapor kepada petugas yang ada disetiap stasiun maupun kepada polisi. Karena bila mengerahkan petugas dalam jumlah banyak di dalam kereta adalah hal yang tidak mungkin.

"Berteriak, menghindar, dan laporkan kepada petugas. Tidak mungkin petugas diam, kalau perlu kami akan hentikan perjalanan kereta," ujarnya


maka pesan dari penulis : berhati hatilah sebab kejahatan bukan hanya ada dari niat pelakunya, tapi juga karna ada kesempatan . waspadalah .... waspadalah ... !!! ( windy )
 

Selasa, 05 April 2011

Di balik Kepompong dan Seorang yang Baik Hati

Seseorang duduk termenung ..
Kemudian ia menemukan kepompong nan buruk calon si kupu-kupu nan indah .
Dia duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika dia berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan.
Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya.
Membantunya …
Ya .. !!
Benar sekali, ia memutuskan untuk membantu calon si kupu-kupu nan indah itu …

Dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.
Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengerut.

Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Sayang, semuanya tak pernah terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengerut. Dia tidak pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya. Sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.


Kadang, perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

Saya memohon kekuatan, dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.

Saya memohon kebijakan, dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.

Saya memohon kemakmuran, dan Tuhan memberi saya otak dan tenaga untuk bekerja.

Saya memohon keteguhan hati, dan Tuhan memberi saya bahaya untuk diatasi.

Saya memohon cinta, dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.

Saya memohon kemurahan/kebaikan hati, dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.

Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.



(diambil dari malajah ‘Paras’ No.20/Tahun II Mei 2005)
di edit oleh : Windy Borutha Siregar